This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Showing posts with label College Life. Show all posts
Showing posts with label College Life. Show all posts
Wednesday, March 27
Tuesday, March 26
Pertama, Dokter UII Terima Ijazah Terakreditasi A Institusi dan Prodi
9:21 PM
College Life
Pelantikan dan sumpah bagi 50 dokter baru UII periode 20 kali ini menjadi sangat istimewa. Pasalnya, di ijazah yang mereka terima selain tertulis akreditasi A Program Studi (Prodi), juga tertulis akreditasi A institusi yang diperoleh belum lama ini.
“Hanya ada empat Prodi pendidikan dokter di perguruan tinggi swasta yang terakreditasi A, dan hanya di ijazah saudara yang tertulis akreditasi A Prodi maupun institusi. Saudara menjadi yang pertama di UII“ ujar Rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec pada pelantikan dan sumpah dokter UII, Selasa (26/3) di kampus terpadu.
Prof. Edy menyampaikan capaian itu merupakan sebagian dari begitu banyak rahmat yang diberikan Allah kepada UII di usianya yang menginjak 70 tahun. Dalam konteks Indonesia dan asia tenggara, menurutnya UII cukup terhormat. Penilaian baik dari berbagai kalangan itu juga tidak lepas dari kinerja para alumni. “Kinerja alumni menjadi salah satu penilaian, maka dari itu dokter UII yang baru saja disumpah harus berjuang membawa membawa nama baik UII” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah DIY, dr. Wigati Damiyati, Sp.Rad mengatakan, sumpah yang baru saja diucapkan mengandung tanggung jawab dokter untuk menentukan apa yang harus dilakukan untuk kebaikan pasien. Dokter menurutnya harus menemukan apa yang pasien inginkan. dr. Wigati melanjutkan suatu saat akan muncul situasi otonomi di mana keingingan pasien tidak sesuai dengan harapan yang dokter lakukan meskipun demi kebaikan pasien. Dalam menghadapi hal ini dokter harus bertindak professional dengan melibatkan pasien dalam menentukan berbagai keputusan menyangkut kesejahteraan pasien. Kebijakan pemerintah dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi pasien sebetulnya tidak akan signifikan jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan DIY, Drs. Elfi Efendi, M.Si, Apt menyatakan pelayanan kesehatan dari pemerintah sangat dipengaruhi oleh mutu tenaga kerja dan pemberi layanan kesehatan. “Untuk itu pemerintah memprogramkan penyelenggaraan internship untuk meningkatkan profesionalisme dokter baru dan mematangkan mutu profesi dokter” ujarnya. Di DIY sendiri menurutnya keberhasilan pembangunan kesehatan belum menggembirakan. Jumlah penduduk yang terus bertambah dan tidak dibarengi peningkatan infrastruktur mendekatkan masyarakat pada ancaman seperti gangguan pencemaran lingkungan, kecelakaan dan pengangguran. Belum lagi ancaman penyakit menular yang belum tuntas, ditambah penyalahgunaan narkoba sebagai pintu masuk virus HIV. Drs. Elfi menambahkan, proiritas pembangungan kesehatan pada 2010-2014 adalah peningkatan akses dan layanan ksehatan. Proiritas itu dapat dicapai melalui program kesehatan masyarakat, Keluarga berencana, sarana kesehatan, obat, dan asusransi ksehatan nasional. “Tahun 2014 nanti adalah tahun implementasi sistem jaminan sosial nasional sekaligus merupakan tahun politik. Untuk itu dibutuhkan kesepahaman langkah sikap pelaku pembanguan kesehatan” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah DIY, dr. Wigati Damiyati, Sp.Rad mengatakan, sumpah yang baru saja diucapkan mengandung tanggung jawab dokter untuk menentukan apa yang harus dilakukan untuk kebaikan pasien. Dokter menurutnya harus menemukan apa yang pasien inginkan. dr. Wigati melanjutkan suatu saat akan muncul situasi otonomi di mana keingingan pasien tidak sesuai dengan harapan yang dokter lakukan meskipun demi kebaikan pasien. Dalam menghadapi hal ini dokter harus bertindak professional dengan melibatkan pasien dalam menentukan berbagai keputusan menyangkut kesejahteraan pasien. Kebijakan pemerintah dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi pasien sebetulnya tidak akan signifikan jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan DIY, Drs. Elfi Efendi, M.Si, Apt menyatakan pelayanan kesehatan dari pemerintah sangat dipengaruhi oleh mutu tenaga kerja dan pemberi layanan kesehatan. “Untuk itu pemerintah memprogramkan penyelenggaraan internship untuk meningkatkan profesionalisme dokter baru dan mematangkan mutu profesi dokter” ujarnya. Di DIY sendiri menurutnya keberhasilan pembangunan kesehatan belum menggembirakan. Jumlah penduduk yang terus bertambah dan tidak dibarengi peningkatan infrastruktur mendekatkan masyarakat pada ancaman seperti gangguan pencemaran lingkungan, kecelakaan dan pengangguran. Belum lagi ancaman penyakit menular yang belum tuntas, ditambah penyalahgunaan narkoba sebagai pintu masuk virus HIV. Drs. Elfi menambahkan, proiritas pembangungan kesehatan pada 2010-2014 adalah peningkatan akses dan layanan ksehatan. Proiritas itu dapat dicapai melalui program kesehatan masyarakat, Keluarga berencana, sarana kesehatan, obat, dan asusransi ksehatan nasional. “Tahun 2014 nanti adalah tahun implementasi sistem jaminan sosial nasional sekaligus merupakan tahun politik. Untuk itu dibutuhkan kesepahaman langkah sikap pelaku pembanguan kesehatan” ujarnya.
Saturday, December 17
Ketua Himma UII 2011
9:47 PM
College Life
Yogyakarta - Teuku Rabiul, mahasiswa Fakultas Teknik Industri jurusan Teknik Imformatika Universitas Islam Indonesia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Univeritas Islam Indonesia (Himma) UII Yogyakarta. Ia meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Ketua Himma UII, Senin (5/12).
Pemilihan tersebut diwarnai persaingan sengit di antara beberapa kandidat. Mereka beradu visi dan misi guna meraih suara terbanyak. Selain Rabiul, ada dua calon lain yaitu Aprilinandar, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Yustisi Nabhasani mahasiswa Fakultas Hukum.
Dari hasil perhitungan suara, Teuku Rabiul berhasil mengumpulkan sebanyak 64 Suara, mengalahkan kandidat lainnya. Suara terbanyak kedua diperoleh Aprilinandar (37 suara) dan Yustisi Nabhasani (14 suara).
Pemilihan tersebut diwarnai persaingan sengit di antara beberapa kandidat. Mereka beradu visi dan misi guna meraih suara terbanyak. Selain Rabiul, ada dua calon lain yaitu Aprilinandar, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Yustisi Nabhasani mahasiswa Fakultas Hukum.
Dari hasil perhitungan suara, Teuku Rabiul berhasil mengumpulkan sebanyak 64 Suara, mengalahkan kandidat lainnya. Suara terbanyak kedua diperoleh Aprilinandar (37 suara) dan Yustisi Nabhasani (14 suara).
Friday, December 16
POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI PRIMER RAWAT INAP DI RSUD SLEMAN TAHUN 2009
2:25 PM
College Life
INTISARI
POLA
PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI PRIMER RAWAT INAP DI RSUD
SLEMAN TAHUN 2009
Fitrah Fahmi1,
dr. Isnatin Miladiyah, M. Kes2
Latar
Belakang: Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskuler setiap tahun
menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju. Dari sekian banyak penderita hipertensi, hanya 4%
yang terkontrol keadaannya. Salah satu cara untuk mengontrol keadaan ini ialah
dengan memberikan terapi medikamentosa yang tepat dan adekuat. Pengobatan
tidak adekuat dapat menyebabkan beberapa kerugian, antara lain pengobatan yang
tidak efektif dan tidak aman, penyakit menjadi lebih lama dan bertambah parah,
rasa tidak nyaman bagi pasien, dan penambahan biaya pengobatan.
Tujuan:
Untuk mengetahui pola penggunaan obat AHT
dalam pengobatan pada pasien hipertensi primer rawat inap di RSUD Sleman tahun
2009.
Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif, observasional yang bersifat retrospektif. Penelitian ini
dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman Yogyakarta dari tanggal
8-10 Maret 2011. Subyek penelitian adalah pasien hipertensi primer rawat inap
yang berobat ke RSUD Sleman dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember 2009. Data
penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari kumpulan rekam
medis RSUD Sleman tahun 2009.
Hasil
dan Simpulan: Golongan yang paling
sering diresepkan adalah ACEI, dengan jenis yang paling sering adalah Captopril.
Pada peresepan secara tunggal/monoterapi, golongan paling sering adalah ACEI, yaitu
jenis Captopril. Peresepan obat lebih sering secara kombinasi, yaitu dengan golongan
tersering adalah ACEI dan CCB, dengan jenis Captopril dan Nifedipine. Pemberian
obat lebih sering secara oral. Dalam peresepan obat AHT, paling sering
diresepkan 2 obat AHT per hari, dengan rata-rata pemberian obat sebanyak 1.62
obat per hari. Dilihat dari jenis pemberian obat (tunggal/kombinasi), 38 resep
sesuai dengan JNC 7th
dan 24 resep tidak sesuai. Dilihat dari kombinasi golongan obat AHT, ternyata
24 resep sesuai dengan JNC 7th dan 10 resep tidak sesuai.
Kata Kunci: hipertensi, obat antihipertensi, RSUD Sleman, JNC
7
1 Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Indonesia
2 Departemen
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
2:21 PM
College Life, Neurology
Definisi
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penonjolan diskus inter
vertabralis dengan piotusi dan nukleus kedalam kanalis spinalis pumbalis
mengakibatkan penekanan pada radiks atau cauda equina. HNP adalah suatu
penekanan pada suatu serabut saraf spinal akibat dari herniasi dan nucleus hingga
annulus, salah satu bagian posterior atau lateral.
Etiologi
1.Trauma,
hiperfleksia, injuri pada vertebra.
2.Spinal stenosis.
3.Ketidakstabilan
vertebra karena salah posisi, mengangkat, dll.
4.Pembentukan
osteophyte.
5.Degenerasi dan degidrasi dari kandungan tulang rawan annulus dan
nucleus mengakibatkan berkurangnya elastisitas sehingga mengakibatkan herniasi
dari nucleus hingga annulus.
Patofisiologi
Daerah lumbal
adalah daerah yang paling sering mengalami hernisasi pulposus, kandungan air diskus
berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia. Selain itu serabut menjadi kotor
dan mengalami hialisasi yang membantu perubahan yang mengakibatkan herniasi
nukleus purpolus melalui anulus dengan menekan akar – akar syaraf spinal. Pada
umumnya harniassi paling besar kemungkinan terjadi di bagian koluma yang lebih
mobil ke yang kurang mobil (Perbatasan Lumbo Sakralis dan Servikotoralis). Sebagian
besar dari HNP terjadi pada lumbal antara VL 4 sampai L 5, atau L5 sampai S1. Arah
herniasi yang paling sering adalah posterolateral. Karena radiks saraf pada
daerah lumbal miring kebawah sewaktu berjalan keluar melalui foramena neuralis,
maka herniasi discus antara L 5 dan S 1.
Perubahan
degeneratif pada nukleus pulpolus disebabkan oleh pengurangan kadar protein
yang berdampak pada peningkatan kadar cairan sehingga tekanan intra distal
meningkat, menyebabkan ruptur pada anulus dengan stres yang relatif kecil. Adanya
trauma baik secara langsung atau tidak langsung pada diskus inter vertebralis
akan menyebabkan komprensi hebat dan transaksi nucleus pulposus (HNP). Nukleus
yang tertekan hebat akan mencari jalan keluar, dan melalui robekan anulus
tebrosus mendorong ligamentum longitudinal terjadilah herniasi.
Diagnosis
---- Diagnosis ditegakkan berdasarkan
amanesis, pemeriksaan klinis umum, pemeriksaan neurologik dan pemeriksaan
penunjang. Ada adanya riwayat mengangkat beban yang berat dan berulang kali,
timbulnya low back pain. Gambaran klinisnya berdasarkan lokasi
terjadinya herniasi.
---- Diagnosa
pada hernia intervertebral , kebocoran lumbal dapat ditemukan secepat mungkin.
Pada kasus yang lain, pasien menunjukkan perkembangan cepat dengan penanganan
konservatif dan ketika tanda-tanda menghilang, tes nya tidak dibutuhkan lagi.
Myelografi merupakan penilaian yang baik dalam menentukan suatu lokalisasi yang
akurat yang akurat.
Anamnesis
Dalam
anamnesis perlu ditanyakan kapan mulai timbulnya, bagaimana mulai timbulnya,
lokasi nyeri, sifat nyeri, kualitas nyeri, apakah nyeri yang diderita diawali
kegiatan fisik, faktor yang memperberat atau memperingan, ada riwayat trauma
sebelumnya dan apakah ada keluarga penderita penyakit yang sama. Perlu juga
ditanyakan keluhan yang mengarah pada lesi saraf seperti adanya nyeri
radikuler, riwayat gangguan miksi, lemah tungkai dan adanya saddle anestesi.
bila mengenai konus atau kauda ekuina akan timbul gangguan miksi, defekasi,
atau fungsi seksual.
Faktor Resiko yang perlu ditanyakan, antara lain:
- Tidak dapat diubah
Umur, jenis kelamin, riwayat cedera punggung, atau HNP
sebelumnya.
- Dapat diubah
- Pekerjaan dan aktifitas
- Olahraga tidak teratur
- Merokok
- Berat badan berlebih
- Batuk lama berulang
Pemeriksaan Klinik Umum
Inspeksi dapat di mulai saat
penderita jalan masuk ke ruang pemeriksaan. Cara berjalan (tungkai sedikit di
fleksikan dan kaki pada sisi sakit di jinjit), duduk (pada sisi yang sehat).
Palpasi, untuk mencari spasme otot, nyeri tekan, adanya skoliosis, gibus dan
deformitas yang lain.
Pemeriksaan neurologik,
a. Pemeriksaan
sensorik
b. Pemeriksaan
motorik: dicari apakah ada kelemahan, atrofi atau fasikulasiotot
c. Pemeriksaan
tendon
d. Pemeriksaan
untuk LBP
i. Tes untuk meregangkan saraf ischiadikus (tes laseque,
tes kontra laseque, tes bragard, tes sicard)
ii. Tes untuk menaikkan tekanan intra tekal (tes
Nafzigger, tes Valsava, tes Lehrmitte)
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
neurofisiologi. Terdiri dari:
1. Elektromiografi (EMG) bisa mengetahui akar saraf mana
yang terkena dan sejauh mana gangguannya, masih dalam tahap iritasi atau tahap
kompresi
2. Somato
Sensoric Evoked Potential (SSEP)
Berguna untuk
menilai pasien spinal stenosis atau mielopati
3. Pemeriksaan
Radiologi
· Foto polos untuk menemukan berkurangnya tinggi diskus
intervetebralis sehingga ruang antar vertebralis tampak menyempit
· Kaudografi,
mielografi, CT Mielo dan MRI
Untuk membuktikan HNP dan menetukan lokasinya. MRI
merupakan standar baku emas untuk HNP
· Diskogarfi
Penerapan
terapi pada pasien HNP dapat berupa konservatif: istirahat mutlak di tempat
tidur, terapi farmakologis, fisioterapi, latihan, traksi, dan korset pinggang.
Terapi operatif dilakukan jika ditemukan indikasi, antara lain, terdapat
sindrom kauda equine, mengalami defisit neurologis progresif, mengalami defisit
neurologis yang nyata, dan rasa sakit yang menetap dan semakin parah empat
sampai enam minggu setelah terapi konservatif. Jenis pembedahan yang bisa
dilakukan pada pasien HNP adalah Laminotomi (pemotongan sebagian lamina di atas
atau di bawah saraf yang tertekan), Laminektomi (pemotongan sebagian besar lamina
atau vertebra), dan Disektomi (pemotongan sebagian atau keseluruhan diskus
intervertebralis). Sementara, ada juga yang disebut Minimally Invasive
Operation. Dengan cara ini, insisi yang diperlukan tidak lebar, dimungkinkannya
visualisasi lokasi patologi melalui mikroskop atau endoskop, trauma pembedahan
yang dialami pasien
jauh lebih sedikit, dan pasien dapat pulih lebih cepat.
Penatalaksanaan
1.Terapi
Konservatif:
a.Tidur selama
2 – 4 hari diatas kasur yang keras
b.Terapi
farmakologi
- analgesik
(paracetamol, aspirin, tramadol) dan NSAID (ibuprofen, Na diclofenak)
- muscle relaxan (sering dikombinasikan dengan NSAID):
tinazidin, esperidone, carisoprodol
- opioid
-
kortikosteroid oral : untuk hnp dan untuk mengurangi inflamasi
-
kortikosteroid oral : untuk hnp kronik, amitriptilin, CP2
- suntikan
picu : anestesi lokal dan kortikosteroid di jaringan otot sekitar tulang
belakang
c. Terapi
fisik
- traksi
pelvis
- USW(ultra sound wave) diatermi, kompresi panas/dingin:
untuk mengurangi keluhan nyeri dengan cara mengurangi peradangan dan spasme
otot.
- TENS(Transkutaneus Electrical Nerve Stimulation):
memberikan rangsangan listrik terus menerus
- korset lumbal: tidak bermanfaat untuk hnp akut, tapi
bermanfaat untuk mencegah LBP dan mengurangi nyeri pada LBP kronik
- latihan dan modifikasi gaya hidup: mengurangi berat
badan dan latihan jasmani(jalan, naik sepeda, berenang)
2. Terapi
Pembedahan
Indikasi terapi bedah:
- setelah
dirawat 4 minggu secara konservatif, nyeri menetap atau progresif bertambah
- ada gangguan
miksi, defekasi, atau seksual (sindroma conus-cauda)
- defisit
neurologis memburuk
- paresis otot
tungkai bawah
- kompresi
radiks
Daftar
Pustaka
- Mardjono, M., Sidharta P., 1988. Neurologi Klinis Dasar.
Jakarta. Dian Rakyat
- Purwanto T.E. Hernia Nukleus Pulposus. Dalam: Nyeri
Punggung Bawah. Edisi II. Kelompok Study Nyeri; Perdossi, Jakarta; 2003: 133-48
- Foster M.R. Herniated Nucleus Pulposus. Available at
http://www.emedicine.com/htm. March 16 2005
- Chen A.L. Herniated Nucleus Pulposus (slipped disk).
Available at http://www.healthline.com/network/htm .April 28 2004
- Schwart S.I. Herniated Lumbar Disc. In : Principles of
Surgery. 5th Edition. New York, Mc Graw Hill Company; 1989 : 1860-80
- Listiono L.D. Hernia Nukleus Pulposus. Dalam Ilmu Bedah
Saraf. Edisi Ketiga. Jakarta, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; 1998 : 347-55
- Adam Medical Illustration. Available at
http://www.googles_images.com/htm. April 28 2004
- Regan JJ. General Diac Degeneration. Available at
http://www.spinesource.com/image/antomy. April 28 2004
- Humphreys S.C. Clinical Evaluation and Treatment Option
For Herniated Lumbar Disc. Available at http://www.American_FamilyPhysi
Wednesday, March 3
Gagal Ginjal
12:38 AM
College Life, Urogenital
DEFINISI
Gagal ginjal akut adalah suatu sindrom klinis yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak (dalam beberapa jam hingga hari) yang menyebabkan retensi sisa metabolisme nitrogen (urea-kreatinin) dan non-nitrogen, dengan atau tanpa disertai dengan oliguri.
Gagal ginjal akut adalah suatu sindrom klinis yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak (dalam beberapa jam hingga hari) yang menyebabkan retensi sisa metabolisme nitrogen (urea-kreatinin) dan non-nitrogen, dengan atau tanpa disertai dengan oliguri.
Sistem Urinaria
12:34 AM
College Life, Urogenital
Sistem urinaria terdiri dari organ ginjal beserta salurannya, ureter, vesika urinaria (buli-buli), dan uretra. Sistem urinaria memiliki fungsi utama untuk mengekskresikan sebagian besar produk akhir dari hasil metabolisme tubuh dalam bentuk urin dan mengatur keseimbangan asam basa, cairan dan elektrolit tubuh.
Dekompensasi Kordis
12:18 AM
Cardiology, College Life
I. DEFINISI
Gagal jantung (GJ) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung. Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbukan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri koroner, hipertensi, kardiomiopati, penyakit pembuluh darah atau penyakit jantung kongenital) dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel (stenosis mitral, kardiomiopati, atau penyakit perikardial). Faktor pencetus termasuk mieningkatnya asupan garam, ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung, infark miokard akut (mungkin yang tersembunyi), serangan hipertensi, aritmia akut, infeksi atau demam, emboli paru, anemia, tirotoksikosis, kehamilan, dan endokarditis infektif.
II.ETIOLOGI
Gagal jantung adalah komplikasi tersering dari segala jenis penyakit jantung kongenital maupun di dapat. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung meliputi keadaan-keadaan yang (1) meningkatkan beban awal, (2) meningkatkan beban akhir, (3) menurunkan kontraktilitas miokardium.
Penyebab seluruh kegagalan pompa jantung adalah :
a)Kelainan mekanik
1.Peningkatan beban tekanan
2.Peningkatan beban volume (regurgitasi katup, peningkatan beban awal,
3.Obstruksi/sumbatan pengisian ventrikel(stenosis mitral atau trikuspidal)
4.Tamponade/penghentian pericardium
5.Pembatasan myocardium atau endocardium
6.Aneurisme ventrikel
7.Disinergi ventrikel
b)Kelainan myocardium (otot)
1.Primer
Kardiomiopati
Miokarditis
Kelainan metabolik
Toksisitas (alcohol, kobalt)
Presbikardia(gangguan faal jantung yang disebabkan oleh penuaan)
2.Kelainan disdinamik skunder (akibat kelainan mekanik)
Deprivasi/tidak adanya oksigen (penyakit jantung koroner)
Kelinan metabolik
Peradangan
Penyakit sistemik
Penyakit paru obstruktif kronis
c)Perubahan irama jantung atau urutan hantaran
Tenang (standstill)
Fibrilasi
Takikardi atau bradikardi ekstrim
Asinkronitas listrik, gangguan konduksi
III.PATOFISIOLOGI
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas myokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi volume sekuncup dan peningkatan volume residu ventrikel. Dengan meningkatnya EDV ventrikel, terjadi peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri (LVDEP). Derajat peningkatan tekanan bergantung pada kelenturan ventrikel dengan meningkatnya LVDEP, terjadi pula peningkatan tekanan atrium (LAP) karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung selama diastolik. Peningkatan LAP diteruskan ke belakangkedalam pembuluh darah paru-paru, meningkatkan tekanan kapiler dan vena paru-paru. Apabila tekanan kapiler paru-paru melebihi tekanan pembuluh darah, terjadi transudasi cairan kedalam interstitial. Jika kecepatan transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, akan terjadi edema interstitial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat meningkatkan cairan merembes kedalam alveola terjadilah edema paru.
Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat akibat peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonalis meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serangkaian kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri. akan terjadi pada jantung kanan yang akhirnya akan menyebabkan edema dan kongesti sistemik.
IV.KLASIFIKASI
A.Gagal jantung Backwart dan Forward
1.Backwart Failure
Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah, maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena di belakangnya akan mengakibatkan manifestasi gagal jantung yang timbul akibat berkurangnya aliran darah ke sistem atrial, sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ yang fatal dengan segala akibatnya.
2.Forward Failure
Forward failure terjadi ketika jalur yang akan di pompa terganggu misalnya pada jantung kanan, pada paru-paru darah yang akan di pompa ke paru-paru terganggu karena terjadi emboli paru yang dapat mengakibatkan mati mendadak. Sedangkan pada jantung kiri disebabkan oeh hipertensi esensia dimana hipertensi esensial ini bersifat sistemik yaitu aliran darah di sebarkan keseluruh tubuh,yang mengakibatkan beban yang di lawan oleh ventrikel kiri besar karena resistensi pembuluh darah besar, sehingga ventrikel memompa terus akibatnya hipertrofi.
B.Gagal Jantung Sistolik dan Diastolik
Kedua jenis ini terjadi secara tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan dari pemeriksaan jasmani, foto toraks atau EkG dan hanya dapat dibedakan dengan eko-Doppler.
Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung memompa sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan kelemahan, fatik, kemampuan aktivitas fisik menurun dan gejala hipoperfusi lainnya.
Gagal jantung diastolik adalah gangguan relaksasi dan gangguan pengisian ventrikel. Gagal jantung diastolik didefinisikan sebagai gagal jantung dengan fraksi ejeksi lebih dari 50%. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan Doppler-ekokardiografi aliran darah mitral dan aliran vena pulmonalis. Tidak dapat dibedakan dengan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan jasmani saja.
C.Low output dan High output Heart Failure
Low output HF disebabkan oleh hipertensi, kardiomiopati dilatasi, kelainan katup dan perikard. High out put HF ditemukan pada penurunan resistensi vaskular sistemik seperti hipertiroidisme, anemia, kehamilan, fistula A-V, beri-beri dan penyakit Paget. Secara praktis, kedua kelainan ini tidak dapat dibedakan.
D.Gagal Jantung Akut dan kronik
Contoh klasik gagal jantung akut (GJA) adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis, trauma atau infark miokard luas. Curah jantung yang menurun secara tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa disertai edema perifer.
Contoh gagal jantung kronis (GJK) adalah kardiomiopati dilatasi atau kelainan multivalvular yang terjadi secara perlahan-lahan. Kongesi perifer sangat menyolok, namun tekanan darah masih terpelihara dengan baik.
E.Gagal Jantung Kanan dan Gagal Jantung Kiri
Gagal jantung kiri akibat kelemahan ventrikel, meningkatkan tekanan vena pulmonalis dan paru menyebabkan pasien sesak napas dan ortopnea. Gagal jantung kanan terjadi kalau kelainannya melemahkan ventrikel kanan seperti pada hipertensi pulmonal primer/sekunder, tromboemboli paru kronik sehingga terjadi kongesti vena sistemik yang menyebabkan edema perifer, hepatomegali, dan distensi vena jugularis. Tetapi karena perubahan biokimia gagal jantung terjadi pada miokard kedua ventriel, maka retensi cairan pada gagal jantung yang sudah berlangsung bulanan atau tahun tidak lagi berbeda.
F.Pembagian gagal jantung menurut New York Heart Association(NYHA) :
Kelas 1 : Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan
Kelas 2 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari aktivitas sehari-hari tanpa keluhan.
Kelas 3 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa keluhan
Kelas 4: Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan harus tirah baring
V.MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis menurut kriteria Framingham dapat pula dipakai untuk diagnosis gagal jantung :
Kriteria Mayor :
Paroksimal nokturnal dispnea
Ronki basah basal
Kardiomegali
Edema paru akut
Gallop S3
Peninggian tekanan vena jugularis
Refluks hepatojugular
Kriteria Minor :
Edema ekstremitas
Batuk malam hari
Dispnea d’effort
Hepatomegali
Efusi pleura
Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal
Takikardia (>120/menit.
Mayor atau minor
Penurunan BB 4.5 kg dalam 5 hari pengobatan.
Diagnosis Gagal Jantung ditegakkan jika ditemukan minimal ada 2 kriteria mayor atau ditemukan 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor
VI.FAKTOR RESIKO
A.Hipertensi
B.Kardiomiopati
C.Penyakit katup mitral dan aorta
D.VSD dan ASD
E.Aritmia persisten
F.Alkoholik
G.Merokok
H.Obat-obatan
I.Penyakit jantung koroner
J.Diabetes melitus
VII.PENATALAKSANAAN
A.Nonfarmakoterapi
Penatalaksanaan Umum, Tanpa Obat-obatan antara lain :
Edukasi mengenai gagal jantung, penyebab, dan bagaimana mengenal serta upaya bila timbul keluhan, dan dasar pengobatan.
Istirahat, olahraga, aktivitas sehari-hari, edukasi aktivitas seksual, serta rehabilitasi.
Edukasi pola diet, kontrol asupan garam, air dan kebiasaan alkohol.
Monitor berat badan, hati-hati dengan kenaikan berat badan yang tiba- tiba.
Mengurangi berat badan pada pasien dengan obesitas.
Hentikan kebiasaan merokok.
Pada perjalanan jauh dengan pesawat, ketinggian, udara panas dan humiditas memerlukan perhatian khusus.
Konseling mengenai obat, baik efek samping, dan menghindari obat-obat tertentu seperti NSAID, antiaritmia klas I, verapamil, diltiazem, dihidropiridin efek cepat, antidepresan trisiklik, steroid.
B.Farmakoterapi
Pemakaian obat-obatan antara lain :
1.Pada tahap simtomatik dimana sindrom GJ sudah terlihat jelas seperti cepat capek (fatik), sesak napas (dyspnea d effort, orthopnea), kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites, hepatomegali dan edema sudah jelas, maka diagnosis GJ mudah dibuat. Tetapi bila sindrom tersebut belum terlihat jelas seperti pada tahap disfungsi ventrikel kiri/LV dysfunction (tahap asimtomatik), maka keluhan fatik dan keluhan di atas yang hilang timbul tidak khas, sehingga harus ditopang oleh pemeriksaan foto rontgen, ekokardiografi dan pemeriksaan Brain Natriuretic Peptide.
2.Diuretik oral maupun parenteral tetap merupakan ujung tombal pengobatan gagal jantung sampai edema atau asites hilang (tercapai euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil sampai optimal dapat dimulai setelah diuretik dan ACE-inhibitor tersebut diberikan.
3.Digitalis diberikan bila ada aritmia supra-ventrikular (fibrilasi atrium atau SVT lainnya) atau ketiga obat diatas belum memberikan hasil yang memuaskan. Intoksikasi digitalis sangat mudah terjadi bila fungsi ginjal menurun (ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (kurang dari 3.5 meq/L).
4.Aldosteron antagonis dipakai untuk memperkuat efek diuretik atau pada pasien dengan hipokalemia, dan ada beberapa studi yang menunjukkan penurunan mortalitas dengan pemberian jenis obat ini.
5.Pemakaian obat dengan efek diuretik-vasodilatasi seperti Brain N atriuretic Peptide (Nesiritide) masih dalam penelitian. Pemakaian alat Bantu seperti Cardiac Resychronization Theraphy (CRT) maupun pembedahan, pemasangan ICD (Intra-Cardiac Defibrillator) sebagai alat mencegah mati mendadak pada gagal jantung akibat iskemia maupun non-iskemia dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas hidup, namun mahal. Transplantasi sel dan stimulasi regenerasi miokard, masih terkendala dengan masih minimalnya jumlah miokard yang dapat ditumbuhkan untuk mengganti miokard yang rusak dan masih memerlukan penelitian lanjut.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif , et all. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi I. FKUI: Jakarta
Gray, HH. 2005. Lecture Notes Kardiologi Edisi IV. Erlangga : Jakarta
Katzung, BG. 1995. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi III. EGC : Jakarta
Himawan. 1979. Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI: Jakarta
Guyton & Hall, 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC : Jakarta
www.google.com , keyword : gagal jantung, dekompensasi kordis
http://content.nejm.org/cgi/content/full/348/20/2007, 2003
Gagal jantung (GJ) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung. Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbukan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri koroner, hipertensi, kardiomiopati, penyakit pembuluh darah atau penyakit jantung kongenital) dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel (stenosis mitral, kardiomiopati, atau penyakit perikardial). Faktor pencetus termasuk mieningkatnya asupan garam, ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung, infark miokard akut (mungkin yang tersembunyi), serangan hipertensi, aritmia akut, infeksi atau demam, emboli paru, anemia, tirotoksikosis, kehamilan, dan endokarditis infektif.
II.ETIOLOGI
Gagal jantung adalah komplikasi tersering dari segala jenis penyakit jantung kongenital maupun di dapat. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung meliputi keadaan-keadaan yang (1) meningkatkan beban awal, (2) meningkatkan beban akhir, (3) menurunkan kontraktilitas miokardium.
Penyebab seluruh kegagalan pompa jantung adalah :
a)Kelainan mekanik
1.Peningkatan beban tekanan
2.Peningkatan beban volume (regurgitasi katup, peningkatan beban awal,
3.Obstruksi/sumbatan pengisian ventrikel(stenosis mitral atau trikuspidal)
4.Tamponade/penghentian pericardium
5.Pembatasan myocardium atau endocardium
6.Aneurisme ventrikel
7.Disinergi ventrikel
b)Kelainan myocardium (otot)
1.Primer
Kardiomiopati
Miokarditis
Kelainan metabolik
Toksisitas (alcohol, kobalt)
Presbikardia(gangguan faal jantung yang disebabkan oleh penuaan)
2.Kelainan disdinamik skunder (akibat kelainan mekanik)
Deprivasi/tidak adanya oksigen (penyakit jantung koroner)
Kelinan metabolik
Peradangan
Penyakit sistemik
Penyakit paru obstruktif kronis
c)Perubahan irama jantung atau urutan hantaran
Tenang (standstill)
Fibrilasi
Takikardi atau bradikardi ekstrim
Asinkronitas listrik, gangguan konduksi
III.PATOFISIOLOGI
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas myokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi volume sekuncup dan peningkatan volume residu ventrikel. Dengan meningkatnya EDV ventrikel, terjadi peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri (LVDEP). Derajat peningkatan tekanan bergantung pada kelenturan ventrikel dengan meningkatnya LVDEP, terjadi pula peningkatan tekanan atrium (LAP) karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung selama diastolik. Peningkatan LAP diteruskan ke belakangkedalam pembuluh darah paru-paru, meningkatkan tekanan kapiler dan vena paru-paru. Apabila tekanan kapiler paru-paru melebihi tekanan pembuluh darah, terjadi transudasi cairan kedalam interstitial. Jika kecepatan transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, akan terjadi edema interstitial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat meningkatkan cairan merembes kedalam alveola terjadilah edema paru.
Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat akibat peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonalis meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serangkaian kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri. akan terjadi pada jantung kanan yang akhirnya akan menyebabkan edema dan kongesti sistemik.
IV.KLASIFIKASI
A.Gagal jantung Backwart dan Forward
1.Backwart Failure
Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah, maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena di belakangnya akan mengakibatkan manifestasi gagal jantung yang timbul akibat berkurangnya aliran darah ke sistem atrial, sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ yang fatal dengan segala akibatnya.
2.Forward Failure
Forward failure terjadi ketika jalur yang akan di pompa terganggu misalnya pada jantung kanan, pada paru-paru darah yang akan di pompa ke paru-paru terganggu karena terjadi emboli paru yang dapat mengakibatkan mati mendadak. Sedangkan pada jantung kiri disebabkan oeh hipertensi esensia dimana hipertensi esensial ini bersifat sistemik yaitu aliran darah di sebarkan keseluruh tubuh,yang mengakibatkan beban yang di lawan oleh ventrikel kiri besar karena resistensi pembuluh darah besar, sehingga ventrikel memompa terus akibatnya hipertrofi.
B.Gagal Jantung Sistolik dan Diastolik
Kedua jenis ini terjadi secara tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan dari pemeriksaan jasmani, foto toraks atau EkG dan hanya dapat dibedakan dengan eko-Doppler.
Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung memompa sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan kelemahan, fatik, kemampuan aktivitas fisik menurun dan gejala hipoperfusi lainnya.
Gagal jantung diastolik adalah gangguan relaksasi dan gangguan pengisian ventrikel. Gagal jantung diastolik didefinisikan sebagai gagal jantung dengan fraksi ejeksi lebih dari 50%. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan Doppler-ekokardiografi aliran darah mitral dan aliran vena pulmonalis. Tidak dapat dibedakan dengan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan jasmani saja.
C.Low output dan High output Heart Failure
Low output HF disebabkan oleh hipertensi, kardiomiopati dilatasi, kelainan katup dan perikard. High out put HF ditemukan pada penurunan resistensi vaskular sistemik seperti hipertiroidisme, anemia, kehamilan, fistula A-V, beri-beri dan penyakit Paget. Secara praktis, kedua kelainan ini tidak dapat dibedakan.
D.Gagal Jantung Akut dan kronik
Contoh klasik gagal jantung akut (GJA) adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis, trauma atau infark miokard luas. Curah jantung yang menurun secara tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa disertai edema perifer.
Contoh gagal jantung kronis (GJK) adalah kardiomiopati dilatasi atau kelainan multivalvular yang terjadi secara perlahan-lahan. Kongesi perifer sangat menyolok, namun tekanan darah masih terpelihara dengan baik.
E.Gagal Jantung Kanan dan Gagal Jantung Kiri
Gagal jantung kiri akibat kelemahan ventrikel, meningkatkan tekanan vena pulmonalis dan paru menyebabkan pasien sesak napas dan ortopnea. Gagal jantung kanan terjadi kalau kelainannya melemahkan ventrikel kanan seperti pada hipertensi pulmonal primer/sekunder, tromboemboli paru kronik sehingga terjadi kongesti vena sistemik yang menyebabkan edema perifer, hepatomegali, dan distensi vena jugularis. Tetapi karena perubahan biokimia gagal jantung terjadi pada miokard kedua ventriel, maka retensi cairan pada gagal jantung yang sudah berlangsung bulanan atau tahun tidak lagi berbeda.
F.Pembagian gagal jantung menurut New York Heart Association(NYHA) :
Kelas 1 : Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan
Kelas 2 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari aktivitas sehari-hari tanpa keluhan.
Kelas 3 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa keluhan
Kelas 4: Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan harus tirah baring
V.MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis menurut kriteria Framingham dapat pula dipakai untuk diagnosis gagal jantung :
Kriteria Mayor :
Paroksimal nokturnal dispnea
Ronki basah basal
Kardiomegali
Edema paru akut
Gallop S3
Peninggian tekanan vena jugularis
Refluks hepatojugular
Kriteria Minor :
Edema ekstremitas
Batuk malam hari
Dispnea d’effort
Hepatomegali
Efusi pleura
Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal
Takikardia (>120/menit.
Mayor atau minor
Penurunan BB 4.5 kg dalam 5 hari pengobatan.
Diagnosis Gagal Jantung ditegakkan jika ditemukan minimal ada 2 kriteria mayor atau ditemukan 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor
VI.FAKTOR RESIKO
A.Hipertensi
B.Kardiomiopati
C.Penyakit katup mitral dan aorta
D.VSD dan ASD
E.Aritmia persisten
F.Alkoholik
G.Merokok
H.Obat-obatan
I.Penyakit jantung koroner
J.Diabetes melitus
VII.PENATALAKSANAAN
A.Nonfarmakoterapi
Penatalaksanaan Umum, Tanpa Obat-obatan antara lain :
Edukasi mengenai gagal jantung, penyebab, dan bagaimana mengenal serta upaya bila timbul keluhan, dan dasar pengobatan.
Istirahat, olahraga, aktivitas sehari-hari, edukasi aktivitas seksual, serta rehabilitasi.
Edukasi pola diet, kontrol asupan garam, air dan kebiasaan alkohol.
Monitor berat badan, hati-hati dengan kenaikan berat badan yang tiba- tiba.
Mengurangi berat badan pada pasien dengan obesitas.
Hentikan kebiasaan merokok.
Pada perjalanan jauh dengan pesawat, ketinggian, udara panas dan humiditas memerlukan perhatian khusus.
Konseling mengenai obat, baik efek samping, dan menghindari obat-obat tertentu seperti NSAID, antiaritmia klas I, verapamil, diltiazem, dihidropiridin efek cepat, antidepresan trisiklik, steroid.
B.Farmakoterapi
Pemakaian obat-obatan antara lain :
1.Pada tahap simtomatik dimana sindrom GJ sudah terlihat jelas seperti cepat capek (fatik), sesak napas (dyspnea d effort, orthopnea), kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites, hepatomegali dan edema sudah jelas, maka diagnosis GJ mudah dibuat. Tetapi bila sindrom tersebut belum terlihat jelas seperti pada tahap disfungsi ventrikel kiri/LV dysfunction (tahap asimtomatik), maka keluhan fatik dan keluhan di atas yang hilang timbul tidak khas, sehingga harus ditopang oleh pemeriksaan foto rontgen, ekokardiografi dan pemeriksaan Brain Natriuretic Peptide.
2.Diuretik oral maupun parenteral tetap merupakan ujung tombal pengobatan gagal jantung sampai edema atau asites hilang (tercapai euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil sampai optimal dapat dimulai setelah diuretik dan ACE-inhibitor tersebut diberikan.
3.Digitalis diberikan bila ada aritmia supra-ventrikular (fibrilasi atrium atau SVT lainnya) atau ketiga obat diatas belum memberikan hasil yang memuaskan. Intoksikasi digitalis sangat mudah terjadi bila fungsi ginjal menurun (ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (kurang dari 3.5 meq/L).
4.Aldosteron antagonis dipakai untuk memperkuat efek diuretik atau pada pasien dengan hipokalemia, dan ada beberapa studi yang menunjukkan penurunan mortalitas dengan pemberian jenis obat ini.
5.Pemakaian obat dengan efek diuretik-vasodilatasi seperti Brain N atriuretic Peptide (Nesiritide) masih dalam penelitian. Pemakaian alat Bantu seperti Cardiac Resychronization Theraphy (CRT) maupun pembedahan, pemasangan ICD (Intra-Cardiac Defibrillator) sebagai alat mencegah mati mendadak pada gagal jantung akibat iskemia maupun non-iskemia dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas hidup, namun mahal. Transplantasi sel dan stimulasi regenerasi miokard, masih terkendala dengan masih minimalnya jumlah miokard yang dapat ditumbuhkan untuk mengganti miokard yang rusak dan masih memerlukan penelitian lanjut.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif , et all. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi I. FKUI: Jakarta
Gray, HH. 2005. Lecture Notes Kardiologi Edisi IV. Erlangga : Jakarta
Katzung, BG. 1995. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi III. EGC : Jakarta
Himawan. 1979. Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI: Jakarta
Guyton & Hall, 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC : Jakarta
www.google.com , keyword : gagal jantung, dekompensasi kordis
http://content.nejm.org/cgi/content/full/348/20/2007, 2003
Tuesday, March 2
APGAR Score
4:42 PM
College Life, Obstetry and Gynecology
Apgar score : tes segera/awal yg dilakukan pada 1 menit dan 5 pertama setelah kelahiran. 1 menit menilai seberapa bagus bayi menghadapi kelahiran. 5 menit melihat adaptadi kbayi dengan leingkungan baru. Ratingnya berdasarkan total score 1 sampai 10, 10 berarti bayi paling sehat.
-->
Score
|
0
|
1
|
2
|
Angka
|
Appearence color (warna kulit)
|
Pucat
|
bdn merah, extrem biru
|
seluruh tubuh kemerahan
| |
Pulse(heart rate)
|
tdk ada
|
<>
|
> 100
| |
Grimace (reaksi terhadap rangsang)
|
tdk ada
|
sdikit grakan mimik
|
menangis, batuk/bersin
| |
Activity(tonus otot)
|
lumpuh
|
extremitas dalam fleksi sedikit
|
gerakan aktif
| |
Respiration(usaha nafas)
|
tidak ada
|
lemah, tidak teratur
|
menangis kuat
| |
Jumlah
|
Skin color:
0 : If the skin color is pale blue
1 : If the body is pink and the extremities are blue
2 : If the entire body is pink
b) Pulse
Heart rate is evaluated by stethoscope.
0 : If there is no heartbeat
1 : If heart rate is less than 100 beats per minute
2 : If heart rate is greater than 100 beats per minute
c) Grimace
Grimace response or reflex irritability is a term describing response to stimulation such as a mild pinch:
0 : If there is no reaction to stimulation
1 : If there is grimacing/feeble cry when stimulated
2 : If there is grimacing and a cough, sneeze, or vigorous cry when stimulated
d) Activity
Muscle tone:
0 : If muscles are loose and floppy
1 : If there is some muscle tone
2 : If there is active motion
e) Respiration
Breathing effort :
0 : If the infant is not breathing
1 : If the respirations are slow or irregular
2 : If the infant cries well
Klasifikasi klinik
• 7-10 : normal
• 4-6 : asfiksia ringan-sedang
• 0-3 : asfiksi berat
B)Jenis
A. 1 menit menilai seberapa bagus bayi menghadapi kelahiran.
B. 5 menit melihat adaptasi bayi dengan lingkungan baru. Ratingnya berdasarkan total score 1 sampai 10, 10 berarti bayi paling sehat.
Any score lower than 8 indicates the child needs assistance. Scores below 5 indicate that the infant needs immediate assistance in adjusting to his or her new environment. However, a child who has a low score at 1 minute and a normal score at 5 minutes should not have any long-term problems.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















.jpg)


